Tuesday, December 13, 2011

Pemahaman Masyarakat Terhadap PAUD Masih Rendah

Medan (ANTARA) - Pemahaman masyarakat akan pentingnya pendidikan anak usia dini dinilai masih cukup rendah, yang berakibat pada masih rendahnya angka partisipasi siswa pada pendidikan dini tersebut.
"Belum semua orang tua yang menganggap Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) itu penting, makanya banyak yang tidak memasukkan anaknya ke PAUD," kata Ketua Lembaga Pelatihan dan Pengembangan-Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal (LPP PAUDNI) Sumut Indra Prawira, di Medan, Rabu.
Dewasa ini PAUD yang ada di Sumut baru terdapat pada sekitar 23 kabupaten/kota, sementara 10 kabupaten/kota lagi belum memiliki PAUD.
Jumlah PAUD di Sumut keseluruhan mencapai 2.200. Sedangkan jumlah Taman Kanak-Kanak mencapai 1.200 unit.
"Sebagian besar PAUD yang ada sekarang ini lebih banyak berada di wilayah perkotaan. Kalau di daerah-daerah pedesan jumlahnya masih sangat sedikit. Kita terus mendorong agar PAUD di pedesaan kedepannya dapat terus bertambah,"katanya.
PAUD dikhususkan bagi anak-anak usia 3-6 tahun. Salah satu materi yang diajarkan adalah memperkenalkan anak didik dengan berbagai pengetahuan demi persiapan untuk masuk ke pendidikan formal yakni sekolah dasar.
Dalam kesempatan itu ia juga membantah jika alasan ekonomi menjadi penyebab minat masyarakat untuk memasukan anaknya ke PAUD menjadi rendah.
Karena menurut dia banyak PAUD yang pembiayaannya kecil.
"Banyak PAUD yang murah biaya, bahkan ada yang sebulan hanya Rp10 ribu. Namun tetap saja jumlah yang masuk PAUD sedikit," katanya.
Menurut dia alasan utama bukan terletak pada persoalan ekonomi, namun pemahaman masyarakat tentang PAUD bagi anak. Jika sudah mengerti, maka persoalan biaya pendidikan tak menjadi masalah.
"Lihatlah di Medan ini, mahal-mahal biaya PAUD dan TK, tetapi tetap juga orang daftarkan anaknya. Jadi sebenarnya bukan persoalan ekonomi sebenarnya," katanya.
Untuk itu, pihaknya bekerjasama dengan dinas pendidikan kabupaten/kota untuk melakukan sosialisasi ke daerah-daerah. Hal ini bertujuan agar jumlah anak-anak yang masuk PAUD semakin meningkat.
"Jumlah siswa PAUD di Sumut ini sekitar 300 ribuan. Sementara usia anak 3-6 tahun itu bisa mencapai 800 ribu. Makanya angka partisipasinya rendah," katanya.

Thursday, December 8, 2011

Ini Pendidikan Seks yang Harus Diajarkan Ortu pada Anaknya

 
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Survei Perilaku Seks 2011 yang dilakukan DKT Indonesia menunjukkan, rata-rata remaja mulai berhubungan seks pertama kalinya pada usia 19 tahun dengan mayoritas merupakan mahasiswa.Psikolog Seksual Zoya Amirin menyatakan, melihat fakta dan data ini, kita sudah tidak bisa lagi menganggap seks adalah hal yang tabu untuk dibahas di lingkungan keluarga sekalipun. "Alangkah baiknya bila pendidikan seks yang tepat dilakukan sedini mungkin untuk mencegah remaja dan kaum muda ini mendapatkan informasi yang salah," katanya.
Orang tua merupakan sumber utama anak seharusnya mendapatkan pendidikan seksual, katanya. "Bukannya malah menghindari topik yang sensitif tersebut, karena ternyata hasil survei juga menunjukkan bahwa remaja membahas kegiatan seksualnya dengan teman sebesar 93 persen, disusul dengan membahas dengan pacar (21 persen) baru dengan ibu (10 persen) dan ayah (2 persen)," tambahnya
Zoya menyebut pendidikan seks yang harus diterima anak usia 15-19 tahun adalah pemahaman bahwa kematangan seksual yang telah dialami pada usia tersebut akan bisa membuat mereka untuk hamil atau menghamili perempuan. "Bagi anak lelaki, mereka harus memahami bahwa dorongan seksual itu normal tapi juga harus diajari agar bagaimana cara iseng mereka melepaskan ketegangan seksual seperti menarik tali bra teman sekolahnya itu tidak menjadi pelecehan seksual," ujarnya.
Sedangkan untuk anak perempuan, Zoya meminta agar orang tua untuk mengajarkan mereka kemampuan untuk mengatakan "tidak" dalam kondisi dipaksa oleh pacarnya untuk berhubungan seks. "Dalam pendidikan seks, perlu diajari bagaimana berkata 'tidak' meskipun sudah diajak masuk ke dalam kamar, karena itu akan jadi pemerkosaan," ujarnya.

Inilah Bekal yang Perlu Disiapkan Guru Saat Masuk Kelas

 
REPUBLIKA.CO.ID, TANGSEL--Generasi baru Indonesia menghadapi tantangan yang berat. Tantangan itu berasal dari peradaban yang kental dengan nuansa serba instan dan konsumtif.
Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangsel, Komaruddin Hidayat, menuturkan generasi baru Indonesia berada di persimpangan arus antara kreatif dan konsumtif. Belum lagi, perkembangan teknologi telah melahirkan dunia terkoneksi dengan cepat. Dunia itu diisi oleh generasi yang disebut generasi connected.
"Sebabnya, guru perlu mendampingi anak didik untuk membangun sebuah kultur sekolah dan keluarga guna membentengi mereka.. Tengok saja, pengajar semakin banyak tapi krimininalitas tinggi. Itu karena, guru gagal mencetak kedua kultur itu," kata dia saat menjadi keynote speaker dalam acara training  "Guru Kreatif Pendidikan Berkualitas LPI Dompet Dhuafa" di Wisma Syahida, Kampus II UIN, Kamis (8/12).
Untuk itu, kata Komaruddin, dalam mendampingi anak didiknya, guru perlu membekali diri dengan hal-hal seperti, pertama, guru harus kuasai materi ajar. Murid tahu, mana guru yang pas-pasan. Kalau sudah begitu tidak akan mendapat hormat dari murid. "Maka tepat kiranya perumpaan guru yang berhenti berlajar maka harus berhenti mengajar," ujarnya.
Selain itu, kata Komaruddin, guru jangan kering dalam membangun hubungan anak didik. Guru harus membangun hubungan emosional. Rasa emosional itu akan menggerakan anak untuk menjadi murid yang berprestasi.
Kedua, guru masuk ke kelas membawa vibrasi optimisme kepada anak-anak. Jadi, Anda jangan cerita masalah pribadi. Anak itu harus didorong untuk optimis. Kalau anak-anak diracuni sikap pesimis, maka akan melahirkan generasi pesimis. "Masa kemerdekaan tantangan begitu berat, tapi guru masa itu menanamkan optimisme, hasilnya lahir generasi pekerja keras," kata dia.
Ketiga, saat menuju kelas, guru harus membawa cinta. Kalau anda menjadi guru karena uang, anda tidak akan menjadi seorang yang kaya raya, kasihan muridnya. Kalau anda memandang profesi guru sebagai takdir hidup, lahan amal, sumber penghidupan, maka hasilnya luar biasa. "Anda mau jadi anggota DPR yang kaya tapi dicaci maki masyarakat setiap hari. Tentu tidak bukan, tentu saja anda harus mencintai profesi anda yang begitu mulia," katanya.
Acara training “Guru Kreatif Pendidikan Berkualitas” diselenggarakan oleh Lembaga Pendidikan Insani Dompet Dhuafa (LPI DD) secara gratis kepada 500 guru honorer se-Jabodetabek. Kegiatan ini adalah yang keempat kali sejak digelar pada 2008.